23 April 2016

Diklat

Part 2
Tak Pernah Lengkap

Rafting adalah divisi yang perlu koordinasi tim yang baik. Karena rafting adalah olahraga arus deras yang arusnya selalu berbeda dan tidak bisa dihafalkan. Mulai dari pendayung hingga skipper saling terkait. Satu orang saja tidak mengikuti komando, satu tim taruhannya. Untuk membentuk tim perlu dilakukan mulai dari awal, tidak bisa instan.

Olahraga sebagai bagian dari proses diklat merupakan bagian penting dalam pembentukan tim. Karena olahraga merupakan program rutin dengan intensitas cukup banyak. Namun, kami dari awal tidak pernah lengkap 7 orang. Olahraga pertama, olahraga kedua, hingga olahraga terakhir.

Walaupun begitu, kami berlima sering olahraga bersama, bahkan sudah mulai menemui kecocokan antar personil.

14 April 2016

Diklat

Part 1
"Bagian perjalanan yang paling berat adalah langkah pertama. Terkadang kita perlu dipaksa/terpaksa/kepepet dulu baru menyadari bahwa ternyata kita bisa. Kita ini adalah yang kita pikirkan. Yakinlah bahwa kita pasti bisa."
Demi Pocari


Berbagai divisi sudah mulai melaksanakan diklat masing masing. Setiap divisi memiliki standar diklat yang berbeda beda. Rafting dan Gunung Hutan memiliki standar fisik yang hampir sama dan termasuk kategori berat. Dibawah pengawasan Aang, diklat kami berjalan baik.

Suatu sore kami diklat berbarengan dengan Tim Gunung Hutan Ekspedisi Argopuro. Sebelum diklat dimulai, instruktur Gunung Hutan sekaligus Atlit Kilimanjaro menantang mereka untuk menyelesaikan 15 putaran, kalau berhasil dihadiahi Pocari 2 liter. Mendengar itu, aku spontan juga tertantang.
"Kalau Rafting bisa, gimana mas?"
"Ya, buktiin dulu dong" Dia menantang dan tertawa nyengir.
"Siaap", dalam hati semangatku terbakar.
Okay, pasti bisa. Kami memang tidak fullteam ketika itu, hanya kami berlima dari Tim Rafting.
Putaran pertama, enteng.. 
Putaran ke 4, mulai ngos ngosan. 
Putaran ke 7, ayo setengah jalan lagi, jangan lihat jam tangan!.. 
Putaran ke 10, pocariii!
Putaran ke 13, poocarriii...
Putaran ke 14, ayo habiskan tenagamu!
Putaran ke 15, jangan lihat jam, jangan lihat jam tangan! Tapi mataku gatal, dan... ternyata masih 3,5 menit. Akupun berlari dengan nyatai. Sial...
100 meter terakhir, aku kebut dan masih sisa 30 detik. huffft...
Akhirnya Pocariii 2 liteer!!! Aku kegirangan dalam hati.

Tak terasa karena saking semangatnya, aku telah meng-overlap aang 2 kali. Aenun, Gresi, dan Mifta 4 kali. Usai lari dan sprint, kami balik ke PKM untuk menagihnyaa. Yess, dapat 20 ribu tapi dimasukkan ke Danus.. Sering sering gini aja ya. Biar bisa ekspedisi muraah. Haha.


13 April 2016

Safety

Kegiatan yang melibatkan resiko membutuhkan Kebijakan & Kemampuan Mengambil Keputusan dalam menanganinya. Untuk menghindarkan kecelakaan atau suksesnya dalam penanganan bila itu terjadi maka perlu dipertimbangkan masalah Kemampuan Mengambil Keputusan selain perlunya Pengetahuan dan Ketrampilan kegiatan itu sendiri plus memahami karakter "sungai" tersebut.       


Keamanan bukanlah hanya mengikuti aturan tentang kegiatan itu, mana yang boleh dan mana yang tidak. Tetapi pengertian, pemahaman, sikap dan kebiasaan yang harus dibawa selalu dalam semua kegiatan dan itu membutuhkan proses yang mengkondisikan lingkungan kerja. Kalau itu terpenuhi maka adalah mungkin semua kegiatan akan berakhir dengan kesuksesan dalam menjalankan kegiatan tersebut, Keamanan Program dengan kualitas tinggi.
(sumber : Toni Dumalang - faji.org)

Membangun Tim

"Seandainya aku mempunyai waktu 10 jam untuk menebang pohon, saya akan mewatkan delapan jam pertama untuk mengasah kapak saya." -Abraham Lincoln-
Part 4

Setelah menentukan jobdesk. Kami bertujuh mencari data dan mempersiapkan diri untuk presentasi pertama. Pada presentasi pertama kami diminta menyampaikan usulan tempat tujuan ekspedisi, dan rencana riset. Waktunya tidak banyak, sekitar 5 hari. Kamipun membuat grup Line, kebetulan kami semua ada Line semua jadi lebih gampang komunikasi.  Grup itu aku beri icon foto sungai Pekalen pada bagian flat diantara 2 tebing tinggi yang hijau dan tenang. Seperti usulanku, aku mengusulkan Sungai Pekalen. Dari yang lain ada beberapa usulan yang masuk kriteria, Sungai Cimanuk Garut dan  Sungai Cikandang di Garut, dan Sungai Citarik di Sukabumi. Di Jawa Barat banyak sungai, namun hanya beberapa yang grade IV. Begitu juga di Jawa Timur, hanya Pekalen yang kami tau.

Antara Cimanuk dan Cikandang.

Aku memang tidak suka memaksakan kehendakku dan lebih suka mendengarkan usulan orang lain. Berhubung data surveiku untuk sungai, riset, kontak operator, mapala, dan lainnya untuk sungai Pekalaen kurang cukup, akhirnya kami berada pada posisi 2 pilihan. Karena kami tidak ada yang mencari data survei sungai di Sukabumi tersebut, maka otomatis tersingkir. Di Garut ada ayah angkat dari salah satu tim kami, dia juga punya beberapa kenalan disana, didukung Garut dekat dengan Bandung. Maka sungai ini lebih bisa terbayangkan bagaimana keadaannya. Itu juga yang meningkatkan mental kami, seakan ada gambaran terhadap sungai disana.
Kedua Sungai ini berhulu sama yaitu Gunung Papandayan, Gunung yang sangat hijau dan lebat karena memang sering sekali terjadi hujan disana.

Cimanuk
Cimanuk mengalir ke utara dari Gunung Papandayan dan bermuara di Pantai Utara Pulau Jawa. Sungai ini sangat panjang, karena itu Sungai ini dibagi 3 daerah yang biasa untuk olah raga arus deras, Cimanuk Atas, Cimanuk Tengah, dan Cimanuk Bawah. Cimanuk Bawah adalah daerah paling ekstrem. Untuk menyelesaikan tiga etape Sungai Cimanuk diperlukan waku 3 hari pengarungan normal. Enaknya, Sungai Cimanuk ini melewati tengah kota dan aksesnya juga mudah. Cimanuk tengah yang berada persis ditengah kota. Tapi justru karena Cimanuk melewati tengah kota, maka sungai ini bisa dibilang sangat kotor.

Cikandang

Cikandang dan Cimanuk adalah sungai grade IV.  Berbeda dengan Cimanuk, Cikandang mengalir ke arah selatan dan bermuara di Laut Selatan, tepatnya di Pantai Ranca Buaya, Garut. Cikandang jauh lebih pendek dari sungai Cimanuk, pengarungan normal adalah 5-6 Jam. Dengan waktu tempuh itu, Cikandang bisa ditempuh alam wktu 1 hari. Sungai ini berada jauh dari kota, sekitar 3 jam perjalanan. Cikandang berada jauh dari akses jalan raya dan sepanjang sungai tersebut adalah perkenbunan, persawahan, dan tebing. Ada 2 titik penduduk yang berada di dekat Sungai. Dinding-dinding sungai cukup tinggi.
Setelah dirembug bersama, kami memilih Sungai Cikandang. Karena berpikir bahwa disana lebih pendek dari Cimanuk dan ada saudara dari tim kami, sehingga mungkin bisa minta diantar. Ha ha. Satu lagi, karena sungai ini berhulu di Pegunungan dan tidak melewati kota, jadi airnya bersih. Itu salah satu yang membuat kami memilih disana. Dengan waktu pengarungan normal 1 hari, maka estimasi untuk pengarungan dengan target yang telah ditentukan butuh waktu sekitar 2 – 3 hari.

Apsara Adhidrawa Cikandang

Sebentar lagi tiba waktu kita untuk mempresentasikan Ekspedisi kami. Karena masih awal, kami buat dalam PPT, sayang tidak banyak membantu karena tidak ada proyektor. Sedikit perencanaan kami dikorek dan disampaikan kepada Anggota dan tim lain. Nama Ekspedisi ini adalah “Apsara Adhidrawa Cikandang”. Artinya, Meluncur diatas air yang baik (bersih), di Sungai Cikandang. Karena masih presentasi awal, masih banyak yang belum kami sampaikan dan masih banyak koreksi, salah satunya tentang riset disana.

12 April 2016

Membangun Tim

Part 3

Pembentukan Tim Ekspedisi Masa Bhakti :

Divisi : Arung Jeram
Range Waktu : 10 Maret - 20 April 2014
Ketentuan :
  1. Sungai di Luar Jawa Tengah
  2. Sungai minimal Grade IV
Target :
  1. River Camp
  2. Videografi
  3. Plot Jeram
  4. Sket Jeram
  5. Riset
Bidang Kepanitian Ekspedisi :
  1. Ketua Tim
  2. Sekretaris
  3. Bendahara
  4. Diklat
  5. Danus
  6. Perizinan
  7. Data Survei
  8. Logistik/Perkap
  9. Logistik konsumsi
  10. Konsumsi
  11. Transportasi
  12. Akomodasi
  13. Dokumentasi
  14. Publikasi
  15. Riset
  16. Medis
  17. Komunikasi

09 April 2016

Membangun Tim

"Tim yang hebat bukanlah tim yang sempurna diawal, tetapi tim yang mau belajar dan berusaha.", Tiara (W - 639 - Tt).
Part 2

Minggu, 9 Maret 2012
Kami ber-23 dibagi dalam 5 fokus divisi ekspedisi. Divisiku, Rafting, merupakan divisi dengan orang terbanyak. Namun, malah membuatku semakin khawatir. Semakin besar resiko yang harus kami hadapi tentunya. Tidak semuanya senang dengan divisinya. Walaupun sudah dipertimbangkan anggota sebaik mungkin, tapi tetap saja ada yang tidak lega menerimanya. Salah satunya Mifta, setelah dibacakan bahwa dia masuk ekspedisi rafting, dia merasa tidak mampu dan murung. Dia merasa tidak sanggup.

Kami pun mengumpul ber tujuh bersama instruktur mebagi tugas kelompok. Saat itu giliran Ghia yang menangis, merasa tidak mampu. Rintangan pertama, eh bukan, rintangan kedua muncul. Tim ini kehilangan kepercayaan dirinya. Banyak orang aku harapkan bisa bergabung jadi bagian dari timku malah masuk divisi lain, aku pun dalam hati merasa berat melaksanakannya. Untunglah di materi keahlian umum kami diajarkan satu hal, "Tim yang hebat bukanlah tim yang sempurna diawal, tetapi tim yang mau belajar dan berusaha.", Tiara (W - 639 - Tt). Kata-kata itulah yanug  membuatku berani memantapkan diri untuk menjadi ketua tim. Sebuah keputusan yang menurutku beresiko tinggi, namun harus aku ambil.

Pembagian tugas pun dimulai ketika pikiran kami sudah mulai kondusif. dari sekitar 15 job kepanitiaan, kami bagi rata berdasarkan waktu kerja. Karena kami sebagai manajerial dan atlit, otomatis kami harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan tim untuk berangkat. Pembagian Job tersebut melihat daripada manajerial pra dan lapangan, jadi jangan sampai ada panitia yang kerja full pada salah satu bagaian. Misal, transportasi dan danus.

Sebagai ketua tim harus memahami kapasitas setiap anggotanya. Disitulah aku kesusahan membaca karakter timku. Dari 7 orang timku, hanya 3 laki-lakinya, itupun harus membackup ke-4 perempuan yang di diklat sebelumnya masih butuh banyak belajar. Okay, hanya perlu dirasakan dan dilakukan. Aku harus bisa jadi sososk yang selalu semangat, agar timku pun selalu semangat.

Suasana tim mulai terbangun disini. Yang awalnya aku tidak proaktif dalam proses ini, dipaksa untuk lebih aktif dan paham setiap gejolak kepanitiaan. Hanya 1 yang bisa aku sampaikan untuk menyemangati saudaraku yang lain, "Tim yang hebat bukanlah tim yang sempurna diawal, tetapi tim yang mau belajar dan berusaha."

Kami lihat beberapa tim sudah mulai asyik dengan tim mereka. Beberapa juga sudah mulai menentukan tujuan. Kami belum, target yang diwajibkan kepada kami adalah pengarungan Sungai grade IV, di luar Jawa Tengah, Plot Jeram, Sket Jeram, dan Riset. Okay, sore itu kami targetkan untuk membangun tim dahulu saja.


Membangun Tim

"Tim yang hebat bukanlah tim yang sempurna diawal, tetapi tim yang mau belajar dan berusaha.", Tiara Tt. Kembali pada beberapa waktu sebelum perajalanan Serayu terjadi.
Part 1

Umi adalah sosok yang aku kagumi, dia wanita tetapi sangat tangguh. Begitu juga yang dipikirkan oleh Mifta. Kebetulan dia adalah sosok terdekat bagi kami, Ibarat kata, dia adalah ibu kami disini. Hal itu tidak kebetulan karena dialah Pengurus Harian Bidang Penerimaan Anggota dan Kesejahteraan Anggota. Apapun yang dia katakan pasti baik bagi kami.

Aku adalah seorang mahasiswa biasa. Bedanya adalah aku sedang belajar di Pencinta Alam. Berbagai proses pembelajaran yang mengasyikkan aku lewati dengan penuh semangat.

Kami baru saja disematkan menjadi masa bhakti. Saat itu langkah selanjutnya disampaikan mbak Umi.

“.... Kepada Masa Bhakti Wapeala Lapis 30, wajib membuat usulan rencana ekspedisi sesuai divisi yang dinginkan. Dikumpulkan paling lambat sebelum pendidikan keahlian umum dan pendidikan keoraganisasian.”
“Isinya apa saja mbak?”
“Isinya itu lokasi ekspedisi, ulasan dan deskripsi tentang lokasi tersebut, riset apa yang akan dilakukan disana, dan tim yang kamu inginkan untuk ikut ekspedisi tersebut.”
“Diprint mbak?”
“Iya diprint, dijilid yang rapi pakai kertas warna biru telur asin.”
“Makasih mbakku...”

Aku yakin tentang pilihanku saat itu. Aku sudah menentukan pilihan divisi apa yang akan ku ambil. Sambil keluar ruangan aku tanya kepada instruktur Rafting.

“Mas Kalau mau ekspedisi Rafting gimana?”
“Ya yang lebih besar dari Kali Elo.”
“Serayu Mas?”
“Serayu? Itu mah biasa” dia sambil tertawa
“Oh, sering to mas? Progo bawah?”
“Terserah”, dia pergi sambil nyengir. Aku tak paham artinya apa.

Banyak sumber informasi yang aku  buka. Hanya internet sih, hehe... Dari sekian banyak sungai akhirnya aku tentukan pilihan untuk mengambil sungai Pekalen. Sungai ini sangat jernih airnya. Penampangnya pun bagus dan banyak air terjun yang menambah keindahan Sungai ini. Sungai yang berada di Jawa Timur ini, dibagi menjadi tiga bagian. Atas, Tengah, dan Bawah. Semuanya punya karakter masing-masing. Yang paling ekstrem bagian tengah. Disana ada beberapa operator Rafting yang membuka trip perjalanan, salah satunya S*nga Rafting. Dari webnya aku ambil banyak informasi dan cukup bisa membayangkan bentuk sungainya (kayak udah pinter rafting aja, wkwk).

Trus apa yang aku teliti disana? Deng... Aku mulai bingung sekarang. Memang kalau pas lagi rafting bisa neliti apa? Penelitiannya sambil dayung? Atau gimana? Aku sangat awan. Berbagai ide aku bayangkan. Sampai aku memikirkan untuk menyelamai dasar sungai mengukur kedalamannya. Atau memikirkan untuk mencari hewan yang ada disekitaran sungai. Atau mengukur ph air mengalir tersebut. Trus pertanyaan baru muncul kembali, buat apa riset yang aku lakukan disana? Apa manfaatnya bagiku? Apa manfaatnya bagi orang disana? Apa manfaatnya bagi WAPEALA?

Tetapi itu bukanlah rintangan terakhir. Justru rintangannya adalah, siapa yang akan jadi timku? Berbagai pertimbangan muncul. Mulai dari niatnya, potensinya, kerjasamanya, atau bahkan karakternya. Tim yang dibuat tidak hanya mencantumkan nama. Tapi juga memintanya untuk ikut tim Rafting, ini salah satu kesulitan juga dimana orang-orang tidak semuanya suka hal yang sama dengan kita. Aku membuat timku terdiri dari 7 orang. Komposisi ideal untuk rafting. Ya aku susun sebisaku aja. Sebenarnya aku takut mengajak mereka ekspedisi, melihat kemampuan mereka saat diklat pertama rafting, masih banyak yang kurang, bukan karena murni sombong, tapi memang hanya sekitar 8 yang menguasai, itupun sudah terbagi diminat mereka di divisi lain. Bahkan untuk komposisi ini pun aku belum mendapat jawaban yang tepat sampai batas akhir pengumpulannya, akhirnya aku isi aja seadanya.

“Bek aku njaluk softfilemu”, Bece dengan nada agak merendah meminta softfile ekspedisi.
“Lah koe kan beda ekspedisin e.”
“Wes, rapopo.”
“Yowes, iki ning laptopku.”

Sehari sebelum waktu terakhir mengumpulkannya, aku datang ke PKM bersama Bece untuk mengumpulkannya. Bece Diving di pulau x, aku lupa namanya, Sempu kalau ga salah.
“Mas mau ngumpul usulan kegiatan”, kami berdua datang malam malam dan dengan sedikit malu malu.
“Serahkan aja ke Mbak Umi.” Mas Amar kalem menjawab.
“Ya Mas.”
“Ekspedisi apa?”
“Rafting Mas. Sungai Pekalen” Aku menjawab disusul Bece, “Diving Mas”
Kami lebih lama berdiam dan mencari kesibukan dari pada ngobrol. Akhirnya aku beranikan untuk membuka pembicaraan lagi.
“Mas, aku bingung gimana dengan timku.”
“Siapa aja tim mu?”
“Soki, Aang, Aenun, Noufal, Gresi, mm....”
“Kenapa milih Gresi?” “Kemaren dia terlihat paling menyepelekan.”
“Mmm,” aku terdiam sejenak. “Karena niatnya mas.”
Percakapan terus berlanjut hingga malam. Hingga akhirnya waktu itu pun datang. Pembagian tim ekspedisi.

Serayu (Semarang Dirayu)

Part 2
"Udara pagi membelai mataku dengan lembut, mengantarkanku kembali ke rumah. Mereka sudah duduk bersantai dan menyapaku hangat. Luka hati ini terobati seketika." 
Saat aku membayarkan uangnya, saat itu juga adzan magrib berkumandang. Aku merasa terpanggil dan segera sholat magrib berjamaah. Sekaligus menenangkan hatiku. sedikit bertanya kepada warga, barulah kuketahui bahwa ada SPBU di atas, sekitar 15 menit dan ada ATM sekitar 5 menit dari sana. Okey, pertama cari uang dulu. Untunglah masih ada sedikit tabungan untuk membuatku survive. Sampai di SPBU ternyata perjalan menuju Selomerto tinggal 1 jam lagi. Kupikir-pikir lagi. Aku lelah, tapi tanggung. Sudah sampai, kalau pulang juga sia-sia. Kukebut lagi ke Selomerto ssetelah keketahui bahwa jarak kesana tinggal 1 jam, walau tak tahu jalan, tetap kukebut saja sampai kelokasi.

Sampai disana aku langsung menuju tujuan pertama. Kondisi berubah menjadi hujan diperjalanan. Selanjutnya ke Polsek, Kecamatan, dan Tempat. Hingga hampir tengah malam, masih beberapa yang belum ku temui. Survei lokasi, dll. Ada 3 Polsek (Selomerto, Singomerto, dan Leksono) yang harus aku mintai izin, wuff... Nyasar pula di POLSEK Leksono. Waktu hampir tengah malam melewati jalanan yang kecil dan gelap. Beristirahat hanya di lokasi aja, itupun tidak lama. Sampai di finish point, kucari semua kontak yang mungkin bisa kau hubungi, karena disana operatornya juga sudah tutup, walau hanya kontak [paling tidak bisa jadi penghubung kami.

Perjalanan aku lanjutkan atau tidak, aku bingung, lelah memang, tapi mau tidur dimana? Kulanjutkan perjalanan pulang ke Semarang, berharap seperti gagasan awal untuk dapat mengikuti presentasi kelompok lain walau hanya sebentar. Hingga ditengah setengah jalan menyisiri sungai Serayu, kuhentikan motorku dan berisitirahat di POLSEK. 

Jam 3 lebih 15 menit aku bangun dan kulanjutkan perjalanan. Polisi jaga masih tidur, tanpa pamitan aku pun pulang. ke Semarang. Tak ada ampun kupacu motorku yang sekarat, hanya berhenti sholat Subuh dan merokok.

Pikiranku mulai kosong, berkali kali kulawan dengan playlist Iwan Fals yang aku nyanyikan secara solo. (Terkadang aku merasa menjadi penyanyi ketika di motor, berteriak sesuka hati). Udara pagi membelai mataku dengan lembut, mengantarkanku kembali ke rumah. Mereka sudah duduk bersantai dan menyapaku hangat. Luka hati ini terobati seketika. Sekitar pukul 7 aku baru sampai.
  

08 April 2016

Serayu (Semarang Dirayu)

Part 1
"Udara pagi membelai mataku dengan lembut, mengantarkanku kembali ke rumah.
Mereka sudah duduk bersantai dan menyapaku hangat. Luka hati ini terobati seketika."
Aku adalah ketua tim dan bertanggung jawab atas terlaksananya ekspedisi ini. Di catatanku hampir semua tanggal sudah merah (riskan). sedangkan survei dan perizinan belum dilakukan. Senyum ceria sedikit demi sedikit mulai luntur dari wajah mereka. Semangatku pun berubah menjadi rasa bersalah, aku harus bisa membawa mereka semua, hanya itu mungkin yang terpikir. 

Belum sempat recovery, siang hari aku berangkat, aku abaikan presentasi ekspedisi kelompok lain. Dari Semarang kubawa semua surat yang bisa kubawa untuk perizinan kegiatan besok. Kali ini aku berangkat sendirian bermodalkan google maps. Awalnya perjalanan lancar, perlahan mata terasa berat padahal belumlah sampai 1 jam. Sampai akhirnya rantaiku lepas di belokan menurun pada saat kecepatan tinggi -waktu itu kupacu diatas kecepatan normal ngebutku-. Saat itu adrenalin meningkat, untung tidak jatuh atau ditabrak truk truk besar dibelakang.

Perjalanan kulanjutkan dengan sedikit mengurangi kecepatanku. Banyak jalan jalan asing disana. Setelah melewati Secang dan mulai memasuki Temanggung, terjadi kecelakaan. Aku tertabrak oleh motor, cukup kecang sampai kami terpental. Memang itu salahku yang masuk ke sisi kiri dengan mendadak. Kukeluarkan sebotol minuman dingin dari kantong untuk mencairkan suasana. Kuambil sebatang rokok miliknya setelah dipersilahkan dan kami bernegosiasi. Awalnya memang alot, dia tak mau kalah dan mau semuanya aku tanggung. Setelah bernegosiasi akhirnya kukeluarkan uang didompetku. Hanya ada 59 ribu pas. Kuserahkan 50 ribu dengan alibi itu uang terakhirku (didompet) dan masih untuk perjalanan pulang. Kami pun berdamai, walaupun aku masih sedikit shock setelah tabrakan tadi. 

Setelah bertanya pada orang tadi jalan ke Banjarnegara, kulanjutkan lagi perjalanan ini. Waktu sudah mendekati sekitar jam 4. Kupacu lagi motorku dengan keadaan yang semakin mengenaskan. Jalan mulai menanjak dan sepi, pertanda sudah mendekati lereng Gunung Sumbing dan Sindoro. Pas ditanjakan tiba tiba motorku berhenti ditengah jalan. Ban belakang tidak mau berputar. Setelah menepi ternyata ban motorku terkunci rantai. Aku benar benar merasa hilang harapan waktu itu. Aku hanya duduk di rumput tepi jalan, memandangi langit, membayangkan keadaan mereka yang di Semarang, dan sambil menghisap beberapa batang rokok yang aku bawa di kantong. Cukup lama aku disana, menunggu bantuan juga tak mungkin. Uang tinggal 9 ribu. Jalan begitu sepi, mau naik ga bisa. Mau turun masih mikir lagi. Ku buka hpku, dan kukirim pesan singkat ke Mbak Dian. 
"Mbak, rantaiku lepas."
"Dimana?" setelah itu tidak aku balas.

Aku tak bisa diam terus disini sampai gelap. Kupaksakan untuk melepas rantai yang terjepit. Berat sekali. Akhirnya bisa, rantai aku taruh di jepitan dan aku turun kebawah berharap masih ada bengkel yang buka. Sebentar lagi gelap, dan aku juga belum sholat. Agak jauh dari sana aku menemui bengkel dan kuserahkan disana, hampir saja bengkel tersebut tutup. Langsung, begitu aku selesai menitipkan motor, aku langsung cari tempat sholat dan sholat ashar disana. Kerut diwajah dan beban dipundak serasa hilang seketika.

Selesai sholat, motorku sedah bisa jalan, satu lagi kendala. Aku tak ada uang. Entah itu kendala atau bukan, tapi aku merasa itu bukan hal besar yang mengganggu pikiranku.
"Pinten Pak?"
"9 ewu mawon, Mas."
"PAS!" teriakku dalam hati.
"Meniko Pak artone."

Okay sekarang aku tak ada uang sama sekali, lapar, bingung, dan bensin sudah menipis. Pulang pun juga pasti tak sampai.