26 July 2015

Paddle Merah Jambu dan Serayu

Sungai Serayu atau dulu juga disebut Ci Serayu membentang sejauh 181 Km. Berhulu di Lereng Gunung Prahu wilayah Dieng dengan melewati 5 Kabupaten (Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap). Mata Airnya dikenal dengan Tuk Bima Lukar. Sungai ini dimanfaatkan sebagai Waduk, Pengairan, PLTA, Arung Jeram dsb. Yak, sekilas tentang Sungai yang kami arungi.

12 Juli 2015, Sebelum sahur di Sekret kami sudah persiapan alat yang akan dibawa (Perahu Hipalon Westpoint, Dayung, Pelampung Boogie dan Biawak, Cover, Webbing, Carrabiner NS, Throwbag, Drybag, Tackle Bag, Medical Kit, Oxycan, Pakaian Ganti dan yang jangan sampai ketinggalan, Pompa.) Kebetulan malam ini ada Tamu Mas @ramdhani_irfan Pengarang Buku Tabah Sampai Akhir), Mas Aji Mapagama serta Mas Haris. Mas Irfan dan Mas Aji sahur bersama kami dan setelah itu bersama Saya dan @alfitriyanto1 langsung menuju Terminal Bayangan Sukun sambil membawa semua peralatan selain perahu. Disusul setelah itu @suryaangkasa dan Ilyas membawa perahu. Setelah semua berkumpul kami berangkat pukul 7 pagi. Perjalan dengan bus kami manfaatkan untuk istirahat. Sekitar pukul 10.30 kami Sampai di Terminal Sawangan dengan biaya 200rb (edisi lebaran).

Cuaca sangat cerah, terik matahari semakin membakar semangat kami. Portagging kami lakukan menuju Jembatan Tunggara, Kec Sigaluh, Kab Banjarnegara. Akhirnya... untuk kedua kalinya aku dan Aang kembali ketempat ini. Waktunya persiapan!! 1) Ceklist, 2) Ganti pakaian, 3) Packing, 4) Genjot Pompa, 5) Angkat lagi, 6) Finally, Berdoa Dulu! Wapeala Wapeala Wapeala !!!

Tetap puasa. Setelah perahu sudah di air, artinya semua resiko harus kami terima.

Westpoint kembali merasakan dinginnya Serayu.


[bersambung]...

27 April 2015

Bebek Adus Kali


Sabtu malam briefing perjalanan di PKM. Pembahasan mengenai teknis perjalanan dan pembagian Jobdesk. Awalnya hanya ada 5, aku, Edi, Mas Pillow & Saad. Namun malamnya nambah lagi DJ dan Dhila. Setelah briefing Saad yang baru pertama turun Sungai ini latihan dayung kering dahulu. Kami pun istirahat di PKM kecuali Soki dan Mas Pillow.
Pagi jam 2 seperti kesepakatan, Soki tidak juga turun. Jam 3 barulah aku terbangun, tratap!. Langsung aku bangunkan yang lain. Aku langsung menuju Gudang untuk mempersiapkan alat yang akan dibawa. Waktu sudah molor dan Soki juga belum datang juga. Setelah Subuh, Saad dan Mas Pillow memawa perahu ke Java Mall. Namun sampai sana tak ada angkutan, dan nekadnya Perahu dibawa naik tanjakan Gombel sampai Sukun.
Waktu menunjukan pukul 5.30, Aku bersama Edi bertugas mencari keberadaan Soki. Di kos dan di Kos Kharis, tapi hasilnya Nihil. Usut kena usut, ternyata dia tertidur sampai jam 10 di Kosnya Rijzal. DJ dan Dhila bertugas membawa beberapa perlengkapan menuju Terminal Bayangan Sukun. Kami bertemu lagi di Sukun dan berangkatlah kami pukul 06.00
Perjalanan motor aku habiskan setengahnya untuk membunuh rasa kantuk(ngomong ra penting). Tak lama pun kami sampai diTerminal Tidar. Yaitu pukul 8 kurang. Sambil menunggu tim bus (Edi dan DJ), Saad dan Dhila membeli konsumsi nasi rames bungkus. Setelah tim bus sampai, perkap langsung kami oper dengan mini bus menuju Jembatan Blondo dengan membayar 9rb (3.000 @ orang dan peralatan dihitung 1 orang). Namun sesampai tempat kami mendapat beberapa hambatan mengenai lokasi Start. Akhirnya kami berpindah tempat ke tempat yang biasa unutk start pengarungan.
Peregangan dulu.
Sampai sana kami sarapan dulu. Baru setelah itu memompa perahu dan pinjam dayung tambahan dari operator - dayung kami hanya 5 yang normal waktu itu. Selain itu ada juga yang ganti pakaian dan packing peralatan. Pemanasan pun tak lupa kami lakukan, standar pengarungan ini. Hampir terjadi kehilangan dayung kemarin, karena dayung yang kami letakkan ditukar dengan pengunjung dengan dayung operator. Hampir saja.
Portaggig dulu. 
Pengarungan pun dimulai dengan berdoa dan tos dayung.
Setelah jeram pertama kami semakin semangat karena air yang lumayan besar dibanding terkhir kami kesana. Hanya berjarak dua jeram, kami sampai di jeram Kedung Celeng. Waktunya mandi. Aku pertama menconthkan bagaimana renang jeram di jeram. Karena DJ, Saad dan Dhila baru kali pertama adus kali. Dari mereka bertiga belum ada yang benar benar lancar. Setelah itu mereka diajari naik perahu. Lumayan lama mereka didalam air, entah betah atau nggak bisa naik. Haha. Disana hampir kami kehilangan kamera, untung mas Pillow ingat rokoknya, jadi dia teringat juga kameranya yang dikresek itu. Terlambat satu jeram saja sudah susah mengambilnya.
Setelah puas naik turun perahu. Pengarunga kami lanjutkan. Disini Edi jatuh, tapi tak tertangkap kamera.



Karena debit yang besar, Jeram Kriting pun terlewati dengan lancar.

Hah, waktunya istirahat istirahat. Disini dijual banyak degan dan kami juga bertemu Mapala FIB UTY (Green Palm). Setelah ishoma, kami melanjutkan pengarungan. Perjalanan selanjutnya lumayan banyak flat-nya. Malah sempat main main dengan operator lain.
Yeah!
Akhirnya Finish. Kami pun menyewa angkot untuk kembali ke Start Point untuk packing. Disana kami bertemu Mas Ujang Mahapala. Ternyata mereka dari Sabtu Kemarin Ngarung Progo Hulu-Atas-Bawah dan Elo dengan 2 Perahu dan 1 Inflatable Kayak. Seusai mandi dan packing kami menuju Terminal Tidar. Kali ini tim busnya Aku dan Edi. Jam 5 Kami berangkat dari Terminal.
Jam 8 kami sampai Sukun dan Seanjutnya menuju PKM dengan motor dan nyuci alat. Hasil itung itungan pengeluaran bensin, makan, jajan, bus dan lain-lain, hasilnya adalah 48rb per-burung. Setelah Evaluasi, kami istirahat.

17 March 2015

Thekelan [Part 1]

Terlihat (dari kiri) G. Sumbing, G. Sindoro, G. Andong, G. Telomoyo, G. Ungaran. Foto by Joko. Diambil dari atas desa Thekelan. With Gopro HD 2.
Setelah bulan lalu bertamu ke rumah mbah Wongso, kami bertamu lagi di sana. Namun dengan acara yang berbeda dengan kemarin. Kali ini ada Pemantapan Organisasi untuk Masa Bhakti Wapeala. Tapi bukan kegiatannya yang akan saya ceritakan di posting ini.

Desa Thekelan merupakan salah satu dari jalur pendakian di Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Lewat jalur ini pula bisa mendapat pemandangan luar biasa Gunung Merbabu.

Wapeala UNDIP
Bagi Wapeala sendiri desa Thekelan mempunyai sangat banyak cerita. Dari mulai awal pembukaan jalur pendakian samapai saat ini. Walaupun tidak bisa saya ceritakan semua secara lengkap dan mendetail, akan saya ceritakan sekilas tentang desa ini. Awalnya desa Thekelan merupakan Desa biasa di lereng Gunung Merbabu. Hingga saat 7 orang dari Wapeala (mahasiswa Pencinta Alam) UNDIP membuka jalur di hutan Gunung Merbabu melewati Desa Thekelan. Sejak saat itu Wapeala sering berkegiatan disana. Dari Rapat Kerja Pengurus Harian, Pengenalan AD/ART, Napak Tilas Xpdc Ndugu-Ndugu, penanaman pohon, Bhakti sosial, hingga Reuni Akbar. Masih banyak lagi kegiatan Wapeala disana.
Dari pertama Wapeala membuka jalur, baru mulai tahun 1993 ada pengelolaan jalur pendakian.... 
Berlanjut

24 December 2014

Temu Wicara dan Kenal Medan ke-26, Lampung [Part 1]

Temu Wicara dan Kenal Medan (TWKM) adalah event tahunan Mapala Universitas se-Nusantara. Tempat mapala-mapala kumpul dan sharing pengalaman, cerita, kendala dan tak sedikit solusi solusi yang muncul.
Pada TWKM Lampung ke 26 ini, Wapeala mendelegasikan tiga orang, yaitu : Soki, Temon, dan Jokowi. Soki untuk KM Rock climbing, Mas Temon untuk Temu Wicara, dan Jokowi untuk KM Rafting. Kami bertiga berangkat hari jumat Tanggal 28 Nov dengan kereta seharga 215rb/orang dari Stasium Tawang, Semarang. Tiba di Stasiun Senen Jakarta pukul 3 pagi. Disana sudah ditunggu oleh Mapala Palmater. Kami diajak ke sekre, tapi karena sedang pendidikan anggota baru, hanya mas Rama saja disana. Seperti biasa, setelah merepotkan tuan rumah, kami tidur. Siangnya kami ketemu Mapalast Semarang yang juga mampir di Palmater, mereka berdua rencana awal bareng kita. Tapi gara gara Pak Jamil* mereka ketinggalan kereta. Tak lama kemudian kami pamit duluan berangkat ke Pelabuhan memakai angkot dan disusul bus Arimbi seharga 25rb.
Sampai Pelabuhan Merak kondisi hujan, sekitar pukul 4 sore. Kapal Ferry baru bergerak sekitar pukul 5. Perjalanan laut sampai pelabuhan Bakauheni lancar, namun setelah itu munculah konflik diperjalan darat. Kami memakai mobil travel yang penuh sesak. Adu mulut mewarnai perjalanan ini. Jam 11 Malam kami sampai Bandar Lampung. Kami dijemput oleh Mas Samba angkatan Cuon alpinus.
 Alhamdulillah ada tempat singgah dan diberi makan pula. Mas Samba adalah Alb yang sukses jadi kami sangat nyaman di rumahnya. Haha.
Paginya kami diantar menuju Sekretariat Mapala UNILA untuk registrasi. Semua berkas kami siapkan dan tak lupa juga uang pendaftaran. Waaw, baru pertama ini berkumpul dengan seluruh Mapala se Nusantara. Suasananya sungguh berbeda dengan perkumpulan perkumpulan lain. Dari Ujung Sumatera hingga Papua ada. Berbagai cerita. berbagai logat, berbagai pengalaman, berbagai kepribadian. 
Berlanjut...

07 November 2014

Diskusi Bareng Arus Liar

Selasa sore seperti mahasiswa kebanyakan, ada sebuah presentasi kuliah. Didepan kelas hpku bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Isinya tak jauh seperti ini, "Kata PO nya bus sampe terminal banyumanik jam 16.30. Kumpul di kosku jam 4 ya. Pliss". Segera aku meras tenang. Dianganku jam 6 sore lewat 30. Kulanjutkan presentasi dengan tenang.
Kuingat lagi ada kata "plisss". Dan kubuka lagi pesannya. Langsung kekhawatiran muncul, karena kuliah selesai 16.10. Dan sekarang pukul 15.50. Aang dan Ilyas jadi sasaran. Untunglah Ilyas sanggup membantu mengantarkan aku walau sampe sana terlambat 10 menit. Tapi seperti biasa kereta datang terlambat, 2 jam mungkin biasa. *nyanyi iwan fals~*
Dan memang benar, bus baru berangkat 2 jam setelah itu... Ilyas dan caranya seperti biasa mencairkan suasana sampe akhirnya aku berangkat bersama Uwa Cahyo, Mas Faran, Mbak Upi dan Mbak Arvi (Nene). Alhamdulillah dapat subsidi dari Mas Zaenal 350rb. Hahaha. Oiya, kesempatan langka seperti ini diprakarsai oleh Mas Zaenal.
Sebenarnya sedikit menyesal juga terburu-buru. Karena lupa bawa barang2 yang harusnya kutitipkan dan tidak sempat menyalami sedulur di PKM SC. Ya, begitulah trauma ketinggalan kereta dan memang keterbatasan uang saku. Mahasiswa.
Perjalanan belum juga 10 menit namun aku sudah tertidur.

*****

Sampai rumah tujuan -rumahnya mbak Nene di Gondrong- sekitar pukul 8 pagi. Sampai gang depan rumah -mungkin karena masih ada efek antimo- mbak Nene sampai tidak menyadari telah melewati Om Edi, Ayahnya. Sampai rumah kediamannya di Gondrong kami langsung disambut hangat oleh Keluarga Sedulur kami. Secara makna, Keluarga Sedulur kami adalah Keluarga kami juga. Bisa ditarik kesimpulan singkat, anggaplah rumah sendiri. Dan memang begitu adanya. Hahaha.
Kamar mandi. Tujuan pertama setelah dirasa cukup beramah tamah. Badan terasa lengket dan haredang -kata orang Sunda.
Sarapan sudah. Mandi sudah. Tiduran juga sudah. Berjalanlah kami mencari angkot menuju Masjid Kampus Al-Azhar. Awalnya suhu masih bersahabat. Makin lama, kok lama juga. Seperti sauna siang hari. Tangan badan muka terasa basah. Jakarta.
Sampai di Masjid Al-Azhar kami bertemu Mas Zaenal. Sekitar 2 jam perjalanan dari Gondrong dan sekarang pukul 1 siang. Seperti seorang mas kandung, Mas Zaenal mengerti saja kami lapar. Dan memang sudah disiapkan seporsi Dimsum untuk setiap orang yang kami nikmati di Mobil Nissan Marchnya Mbak El. Dan memang seperti itulah yang mendarahdaging di Wapeala. Nilai persaudaraan antar anggota dan antar generasi tetap terjaga, dan rasamemiliki. Setiap anggota pasti menyadari itu, walau cara memaknainya berbeda beda.

*****

Jam 2 lebih 10menit kami sampai sekretariat Kerabat Pencinta Alam di dalam Gedung Juang. Loh? Iya, memang kebetulan Mas Toni Gumalang dan rekan-rekan sedang ingin kumpul di sana bukan di Sekretariat Arus Liar yang. Kesan pertama yang aku rasakan merasa tidak yakin. Karena tempat itu layaknya ruangan dalam sebuah bangunan kantor era orde lama. Ditambah lagi tidak ada peralatan ataupun sesuatu yang menunjukkan Arus Liar. Sampai disana kami disambut oleh mas. Baru beberapa menit tibalah Mas Toni. Tak banyak intro mas Toni diarahkan oleh Mas Zaenal menuju topik utama. Pada awalnya aku berniat untuk bercerita kronologi kejadian 14 April lalu, namun terasa berat. Untunglah mas Toni memang tidak mengharap kami menjelaskannya lagi. Beliau sudah merasa cukup tau dari pers release kampus dan orang orang terpercaya seperti ketua Faji Garut, Uwa Uwe. Mas Toni -senior dalam bidang arus deras serta kegiatan kegiatan alam bebas- lebih memfokuskan pada membuka mata kita pada manajemen kegiatan. Beliau membuka file ppt yang dijelaskan secara jelas dan menusuk. Banyak yang hal memang telah kami ketahui. Tetapi jika diresapi lagi, ternyata kami telah near miss. Dari semua kegiatan outdoor, panjat, gununghutan, rafting dan lainnya. Kita harus menjauhi bahaya. Dalam artian, antara skill dan antusiasme harus berimbang. Kata ini ditambahi oleh mas Mario -anggota Wanadri juga yang pada masa SMA telah membuka jalur pemanjatan di Himalaya. Jika skill diatas, maka bisa jadi kesombonganlah yang ada. Kebalikannya jika antusiasme berlebihan maka akan mendekatkan diri pada near miss.
Near miss itu bisa dikatakan keadaan yang sudah memungkinkan terjadinya kecelakaan.
Saying No! Katakan tidak. Perasaan mengatakan tidak. Tanda tanda menunjukkan hal tidak wajar. Jangan ragu mengatakan tidak. Petualangan akan disebut petualangan jika itu belum pernah kita lakukan. Tapi petualangan akan hilang jika terjadi korban. Mas Toni Gumilang mengatakan, "sungai yang pernah diarungi tidak banyak. Hanya 32 termasuk luar negeri. ... ya. Itu karena beliau berani mengatakan tidak.
Bagian yang kami rasa paling berpengaruh pada kejadian kemarin adalah Attitude. Memang itulah yang mnjadi sorotan Mas Toni. Attitude = sikap. Banyak penjelasan panjang mengenai ini.
Contoh, dalam kejadian ekspedisi Kopassus bersama Wanadri di Sungai Van Der Wall di Papua. Saat mereka turun air sudah tinggi, walau tidak hujan. Setelah diperhitungkan perbekalan tidak memungkinkan menunggu ait turun karena butuh beberapa minggu menunggu. Namun, disaat seperti itulah sikap yang terbentuk dari mereka yang membuat kejadian hilangnya belasan orang. Lebih baik pulang nama daripada gagal ekspedisi. Itulah sikap yang terbentuk. "Apa bagusnya kehilangan nyawa?" Kata Beliau menyambung ceritannya.
Pemahaman sungai yang kurang.
Pengalaman kurang.
Manajemen kurang.
Itu beberapa yang mempengaruhi sikap kita.
Beliau pernah dalam suatu pengarungan, di hulu sudah terlihat mendung. Didepan tebing tebing. Dia Langsung menginstruksikan untuk mempercepst laju perahu dan melewati tebing tebing dan langsng menepi. Kondisi tidak hujan. Namun tak sampai setengah jam air naik beberapa meter. Apa intinya? Ketika sudah memahami sungai sikap dan perasaan kita akan terlatih melihat tanda tanda akan terjadinya sesuatu hal. Ingat petualangan akan hilang arti jika terjadi korban. Sikap juga yang harus diperbaiki, sehingga bisa memahami kemampuan. Sehingga tau kapan akan melaju terus atau Stop.
Banyak sekali yang beliau utarakan.

Malam Datangnya Mas Ponco

Sore hari ku melarikan diri dari kepanitiaan fakultas. Berat rasanya memang. Segera ku packing laptop dan barang yang perlu untuk mencicil jobdesk yang selalu berbisik minta perhatian.
Seperti biasa jok belakang masih kosong. Pesan singkat ku sebarkan kepada orang orang hebat berslayer merah. Terpilihlah Edi yang mengisinya. Sampai Jatingaleh, perjalanan terpaksa kuulang kembali gara gara hp Edi ketinggalan.
Sampai di Sekre sodara sodara sudah menunggu disana.

***

Mbak Upi, Aku dan Bu Mega. Sebuah diskusi yang harusnya dilakukan sebulan lebih awal atau bahkan sebelumnya. Tentang calon masa bhakti. Memang terlalu mepet. Tapi tidak perlu disesalkan, namun perlu perhatian lebih. Gitu.
Kuharap semua lebih baik. Kami harap. Semuanya berharap. Amin.

Intinya sebuah harapan harus diiringi usaha dan doa. Jangan menyerah selama hati dan lidah masih berfungsi dalam sadar.

***

Semakin malam, kesenian jawa seperti biasa masih berlatih. Memeriahkan suasana malam di PKM. Tiba-tiba mas Ponco datang dari Kudus berbarengan dengan mas Faran. Suasana pun bertambah ramai. Beginilah hangatnya Wapeala Undip. Kehangatan pun juga mengalir membasahi malam ini. Bahkan sampai tulisan ini selesai ditulis masih terasa hangatnya.

04 October 2014

Meresapi Sikontolpanjang

Malam semakin sunyi dan aku hanya ditemani si ASUs dan playlist yang nggak pernah diupdate. Kembali aku masukkan pikiranku kepada Sikontolpanjang. Memang semakin aku memikirkannya semakin kepala ini penat. Tak seperti saat saat itu, dimana aku merasa tenang dengan sikontol.

Sekarang adalah kondisi yang memerlukan pandangan yang jelas. Memang tak mudah. Tidak semudah mencapai kondisi seperti ini, lebih sulit ketika mempertahankannya. Situasi sekerang ini jika aku resapi memang tidak perlu disesalkan. Aku bangga dengan setiap jangkauan-jangkauan yang tercapai. Selama masih ada toleransi dari badan ini untuk bergerak. Karena disetiap langkah badan ini adalah penggerak.

Harapanku, Sikontolpanjang berubah menjadi lebih menawan hati. Maksudnya Situasi dan Kondisi jadi nyaman. Toleransi tetap harus ada. Pandangan dan Jangkauan lebih jelas, tujuan kita bersama.

Si-kon-tol-pan-jang
Situai-Kondisi-Toleransi-Pandangan-Jangkauan

02 May 2014

Guratan Pena Mahasiswa Semakin Sedikit

Pagi, seperti pagi biasa. Kuliah menunggu,untuk
        dihadiri
Datang menuju ruang berbayar
Hanya meletakkan pantat
Mencoretkan guratan khusus nama itu
Lalu...
Sibuk dengan mainan masing masing
Entah kenapa, coretan itu sangat
        berpengaruh, sial
Tak jarang aku berpikir untuk pergi sambil menunggu tengah dan akhir semester menghampiri.
Menyiapkan waktu kebut semalam. Tak jarang.

Tapak Asma
 

20 April 2014

Senyummu Begitu Indah

Kamu datang dengan asa yang begitu besar
Bertemu kami orang biasa dengan semangat luar biasa
Sama seperti semangatmu
Setiap langkah tenangmu bak tarian semesta, begitu damai

Tak terbayangkan betapa sedihnya kamu bila waktu yang telah kita lewati selama ini jadi sia sia
Namun tidak, sebaliknya, kamu terseyum manis walau semua berakhir seperti ini
Mendhului kami yang masih renta ini

Setiap saat kita bersama
Sama sama sakit, sama sama susah, sama sama bahagia, sama sama tertawa.
Masih teringat jelas.

Aenun, Aang, Gresi, aku dan semuannya. Kami semua menyayangimu sampai kapanpun.

16 January 2014

Tak Cukup Hanya Bersyukur

 Aku tergiang kata seseorang yang aku lupa siapa orang itu.

Intinya, apa aku benar-benar diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah? Atau Allah menungguku untuk bertaubat dari semua dosa-dosa yang saking banyaknya, yang setiap hari selalu bertambah.

http://astrobites.org/wp-content/uploads/2011/09/picture2_2.jpg

Sungguh Mahapengasih lagi Mahapenyayang, tak cukup hanya bersyukur atas setiap kesempatanku menarik nafas. Alhamdulillahirobilalamin.

14 January 2014

Lama Tak Aman

Terlalu lama sampai aku lupa bagaimana rasanya aman.
Mentari belum menyilaukan tapi aku sudah terbangun
Hal yang biasa akhir akhir ini, sebenarnya tidak bangun, karena tidak tidur

Pakaian pakaian menbuat mata ini gatal
Tersisihkanlah niat jahat sementara waktu
Ajakan berolahraga
Tersisihkanlah niat jahat sementara waktu
Permintaan bantuan tugas
Tersisihkanlah niat jahat sementara waktu

Padam
Timbul lah niat jahat sementara waktu

Aman seperti ayam pejantan berketurunan petarung
Aman seperti anak kangguru
Aman seperti anak ayam didepan ular sanca lapar, yang dalam hatinya tertanam sebuah keyakinan
Aman seperti berandalan yang bahagia bersama orang cacat, nyaman

Lama tak aman seperti anak ayam
Lama tak aman seperti berandalan

Kegelapan dan penyesalan tercampur dalam hitungan menit dan keluar pada hitungan detik
Yang aku perlukan hanya waktu, sebanyak waktu yang diperlukan untuk membalik Monas seorang diri
Karena tak akan cukup seluruh penghabisan nafas ini

30 December 2013

Hidup

Istilah yang selalu melekat pada setiap tarikan nafas
Istilah yang bisa membuat kita melakukan apa saja untuknya
Namun pada saat tertentu istilah itu bisa sangat tak berarti
Apalagi ketika itu milik orang lain

Hidup kami ada artinya tuan, jangan semaunya tuan ambil.

26 December 2013

Pesan dari Mbah Kakung

Yen kepingin mulyo uripmu ono dunyo - kepenak kalis ing sambi kolo opo bae tur ing besuk biso Suwargo; lakonono :

  • Nindakno lahir batin dawuhe Gusti Allah lan dawuhe Nabine (Nglakonono; Sholat, bayar zakata, kurbana, posoa, haji lamun kuwasa).
  • Bektia marang wong atuwa loro
  • Bektia menyang sadulur tuwa
  • Bektia menyang gurumu
  • Bektia menyang morotuwamu loro
  • Kendalinono nafsumu
  • Nindakno kesabaran
  • Berbuatlah kebaikan dengan siapa saja
  • Jangan menyakiti dengan siapa saja
  • Sholat berjamaah
  • Sregepo silaturahmi menyang sopo bae

07 November 2013

Satu Dari Sekian

Ya, satu dari sekian kemungkinan. Satu dari sekian kesempatan. Pada satu waktu. Pertanyaan ini yang akhir-akhir ini membayangiku. Akankah harus aku mengambil semuanya? Ataukah Tidak sama sekali.

15 October 2013

Thanks to Cigarette

|Bek, koe wes mandeg tenan?| |Ho o... Heh, Udud ki layaknya sebuah koin. Memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi buruk. Sisi buruknya ki wes mesti marai cepet mati, boros dan tidak direstui sebagian orang, mungkin juga orang tua. Sisi baiknya ki yo ono. Karenanya aku dipertemukan dengan... anggap saja sang pencerah. Dan karena sang pencerah itu aku membuka mata dan telinga hingga ku temui orang yang aku sayangi. Aku tak akan menyiakan orang yang aku sayangi. Semua berawal dari rokok. Dan caraku berterimakasih kepada gulungan tembakau itu adalah dengan tidak membakarnya, lagi. Masih banyak hal lain yang aku dapat setelah itu. wes ngono wae.|

Genggam terbalik

Lalu matikan.