Sore hari ku melarikan diri dari kepanitiaan fakultas. Berat rasanya memang. Segera ku packing laptop dan barang yang perlu untuk mencicil jobdesk yang selalu berbisik minta perhatian.
Seperti biasa jok belakang masih kosong. Pesan singkat ku sebarkan kepada orang orang hebat berslayer merah. Terpilihlah Edi yang mengisinya. Sampai Jatingaleh, perjalanan terpaksa kuulang kembali gara gara hp Edi ketinggalan.
Sampai di Sekre sodara sodara sudah menunggu disana.
***
Mbak Upi, Aku dan Bu Mega. Sebuah diskusi yang harusnya dilakukan sebulan lebih awal atau bahkan sebelumnya. Tentang calon masa bhakti. Memang terlalu mepet. Tapi tidak perlu disesalkan, namun perlu perhatian lebih. Gitu.
Kuharap semua lebih baik. Kami harap. Semuanya berharap. Amin.
Intinya sebuah harapan harus diiringi usaha dan doa. Jangan menyerah selama hati dan lidah masih berfungsi dalam sadar.
***
Semakin malam, kesenian jawa seperti biasa masih berlatih. Memeriahkan suasana malam di PKM. Tiba-tiba mas Ponco datang dari Kudus berbarengan dengan mas Faran. Suasana pun bertambah ramai. Beginilah hangatnya Wapeala Undip. Kehangatan pun juga mengalir membasahi malam ini. Bahkan sampai tulisan ini selesai ditulis masih terasa hangatnya.
No comments:
Post a Comment