04 January 2016

Sri Lestari Ningsih

22 Desember (Hari Ibu)


Sri Lestari Ningsih (52)
Sudah 21 Tahun lewat 18 Hari aku terlahir di dunia ini. Semua itu tidak terlepas dari peran ibuku. Beliau adalah lahir di Klaten, 3 April 1963. Ibuku anak ke 5 dari  bersaudara. Lahir dari ayah Alm.Moh Idris, seorang ulama di daerah tempat tinggal beliau, dan ibu bernama Sutarmi, seorang pembatik sekaligus juragan batik pada masa kejayaannya dulu. Namun, sekarang Nenek tinggal sendiri. Nenek memanggil ibu ku dengan panggilan "Lestari", Kakak ibuku dengan panggilan "Markamah", dan Adik ibuku dengan panggilan "Atun". Karena mereka adalah anak perempuan Nenek, maka merekalah yang paling sering dipanggil nenek untuk pelbagai keperluan. Sampai-sampai Nenek ketika memanggil salah satu dari mereka pasti kebalik-balik, kadang manggil ibu tapi semuanya disebut, "Mar, Tun, Les." Begitu juga dengan ibu, ibu juga sering manggil aku, Mas Wahyu, dan Dek Agung, dengan gaya Nenek. "Nu, Yu, Gung", begitulah ibu dan nenekku.
Foto diatas diambil dengan latar rumah tempat tinggal kami sekeluarga. Rumah ini adalah hasil dari jerih payah kedua orang tuaku, tak terkecuali ibu. Tanpa ibu, tidak mungkin rumah ini berdiri hingga seperti sekarang ini. Rumah yang baru berusia sekitar 9 tahun ini memiliki banyak cerita hingga akhirnya dapat berdiri menjadi tempat bernaung bagi kami sekeluarga.

Perjuangan ibuku dimulai dari saat ibu masih bayi. Beliau sering sekali sakit-sakitan, hingga akhirnya nama beliau diubah menjadi nama Jawa. Berbeda dengan kelima saudara kandung ibu yang lain, yaitu menggunakan nama Arab. Sejak saat itu ibu tidak sakit-sakitan lagi. Selama masa mudanya ibu menekuni batik, hingga saat ini masih ada kain hasil batikan ibu sendiri, dari pembuatan pola, membatik, mewarna kain hingga selesai dibuat oleh ibu sendiri. Hasil batikan ibu begitu halus.

Ibu kuliah di IKIP Klaten, jurusan Bahasa Indonesia. Setelah lulus ibu mengajar di SMA yang sama dengan Bapak. Tak lama setelah itu Bapak Ibu menikah. dan memiliki kami berempat. Kakak pertamaku perempuan yang lahir prematur, sehingga meninggal setelah lahir. Aku lahir ketiga setelah Masku (1991), dan sebelum adikku (2002). 4 Desember 1994. Sudah 21 Tahun lebih aku merepoti ibu. Masa kecilku paling susah ditinggal, karena pasti menangis bila tidak bersama bapak atau ibuk. Hingga akhirnya ibu meninggalkan pekerjaannya sebagai guru dan memilih merawatku dirumah. Ibuku sangat tangguh, rela makan seadanya hanya untuk anak-anaknya. Melihat perekonomian keluarga dan penghasilan bapak, ditambah dengan belum memiliki rumah sendiri, ibu pun mencari tambahan dengan berdagang batik. Dengan begitu dapat mengurangi beban bapak.

Modal pertama didapat dari simbah, karena simbah memiliki sentra batik di desa Krakitan Bayat. Hingga akhirnya sekarang sudah bisa berdiri sendiri membantu mengangkat kehidupan keluarga.

Disamping kesuksesan usaha ibu, ternyata itu semua dilandasi pada keimanan beliau. Setiap pagi sebelum Subuh beliau selalu mengamalkan Sholat Fajar dan sebelum berangkat ke Pasar beliau selalu sholat Dhuha. Istiqomah beliau membuahkan hasil dan menjadi contoh bagi putra-putranya dalam hal ibadah. Sungguh bersyukur memiliki Ibu yang selalu cerewet tentang ibadah. Bahkan ketika ada wanita yang dekat dengan putranya, pasti yang ditanyakan adalah agamanya dan akhlaknya.

Doaku untuk Ibu, "Semoga Ibu sekeluarga selalu dijalan lurus-Mu, ya Allah." Amiin.


No comments:

Post a Comment