Seperti jumat-jumat biasa. Yang membuat beda adalah pempek dan mataku. loh apa hubunganya antara pempek, mataku dan aku.
Oke kita mulai dari kejadian seusai jumatan. Sehabis jumatan, aku dan ketiga temanku pergi ke bukit dekat UMY. Disana kami menyampaikan surat perizinan sekaligus main-main ke bukit haha. Kebetulan hujan dan disitulah asiknya. Selesai main-main kami pun berniat pulang, namun penjual pempek menggoda salah satu temanku dan akupun juga hihi. Pempeknya ada 6 pilihan : kapal selam besar(5000), dan 5 jenis lainya yang semua serba seribu rupiah, tapi aku lupa nama2nya. Kelima jenis itu buat aku bingung. Kalo kapal selam gede 5000, tapi pengen hemat. Trus aku putusin beli 3 macam yan seribuan. 1 kapal selam kecil, karna katanya isi telur. 1 yang paling besar diantara ke5 lainya. dan satunya aku bimbang. akhirnya aku pilih yang paling kecil dan paling aku pikir paling tidak memuaskan dengan harga seribu ketimbang yang lain. Setelah digoreng, aku coba satu persatu. Ternyata yang aku pilih terakhir tadi bisa ngembang dan rasanya paling enak ketimbang pilihanku yang lain hahaha. Jangan menilai seseuatu/seseorang dari luarnya saja.
Kedua. Jumat ini aku pulang malam. Setelah lelah main-main di bukit aku pulang +- jam 9 malam. Jelas aku lelah. Namun bukan itu yang buat aku mengantuk. Yang membuat ku mengantuk karna jalan yang monotone dan gelap ditambah kecepatan tinggi yang membuat angin kencang menahan mata ini untuk membuka. Apalagi aku terburu pulang karna sudah dicari dari tadi. Tinggal 1/10 dari jarak perjalanan pulang mata ku menutup beberapa detik, namun beberapa detik itulah detik-detik yang membuatku jatuh. Aku menyenggol pejalan kaki dengan kecepatan tinggi. Syukurlah tak apa apa, huuuuhh. Perjalanan bukan hanya untuk dilewati tapi dinikmati, jika lelah istirahatlah.
No comments:
Post a Comment